Senin, 15 Januari 2018

Bencana Ramah Disabilitas

Mengingat angka bencana di Aceh yang sering terjadi, telah banyak korban yang berjatuhan. Tentu hal ini tidak ingin terus kita rasakan, dimana kita berdarah asli Aceh maupun berdomisili di Aceh tidak ingin saudara kita ikut menjadi korban. Bencana tsunami tahun 2004 misalnya, merenggut 150.000 orang lebih masyarakat Aceh, dan gelombang besar itu tentu tidak pernah memilih korbannya. Siapapun bisa menjadi korban, termasuk masyarakat disabilitas yang memang perlu perlindungan lebih.

Dapat dikatakan masyarakat disabiitas merupakan sosok spesial yang Allah Amanahkan untuk kita jaga dan lindungi. Jumlah mereka di Banda Aceh terbilang cukup banyak, dimana sudah banyak pula Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berdiri sebagai upaya untuk memberi edukasi yang benar kepada penyandang disabilitas. Keberadaan mereka tidak luput menjadi sasaran dalam mitigasi bencana, dimana penyandang disabilitas tergolong masyarakat rentan yang akan terus menjadi prioritas pada saat penyelamatan diri saat bencana terjadi.

Pengalaman saya memberikan kuliah materi kebencanaan di event peringatan 13 tahun tsunami oleh Forum PRB Aceh kepada para orang-orang special ini membuat saya kembali menelusuri jauh kepada proyek pembangunan tanggap bencana di Aceh. Pertanyaan seperti bagaimana menyelamatkan mereka yang berjumlah tidak sedikit, sampai kepada urusan kamar kecil yang masih belum tersedia bagi pengguna kursi roda. Hal ini tentu menjadi tugas para penggagas kebijakan untuk memasukkan kepentingan disabilitas dalam evakuasi saat terjadi bencana.
Ada di tengah-tengah mereka, luar biasa. Kalian harus juga.

Penyandang disabilitas merupakan salah satu kategori masyarakat rentan yang bila terjadi bencana, merupakan masyarakat yang memiliki risiko kerugian paling besar. Selain mereka, masyarakat dalam kategori ini juga terdiri dari masyarakat renta, ibu hamil, dan bayi. Tugas kita sebagai manusia yang diberi Allah kesempurnaan fisik yaitu memberi bantuan kepada mayarakat rentan tersebut seperti membawa mereka ke titik aman. Bukan hanya tugas keluarga namun bila memungkinkan hal ini dapat menjadi tanggung masyarakat umum bahwa masyarakat rentan harus dievakuasi terlebih dahulu.

Upaya teknis yang berlaku untuk mayarakat disabilitas misalnya seperti membuat jalur evakuasi yang dapat memudahkan mereka untuk akses ke lokasi aman bencana. Seperti kita ketahui jalur evakuasi di Banda Aceh sudah cukup baik dimana rambu-rambu sudah jelas terpasang. Namun akan lebih baik bila rambu-rambu tersebut juga di ikuti dengan jalur khusus bagi masyarakat disabilitas untuk mengevakuasi diri ataupun masyarakat umum yang ikut menyelamatkan mereka.


Kita tentu berharap Aceh akan terus selamat dari bencana apapun yang mengancam masyarakat. Tanpa bingkai apapun, masyarakat Aceh tetaplah masyarakat yang harus sadar terhadap bencana. Bencana yang terus mendekat sudah sebaiknya dihadapi dengan upaya mitigasi yang merangkul semua pihak, termasuk yang berkebutuhan khusus seperti masyarakat disabilitas.

Oleh-oleh dari Panitia


MFN
Jumat, 291217 ; 10.39

Minggu, 07 Januari 2018

Menembus Lhok Keutapang Cut

Aceh sebagai provinsi terujung Indonesia memiliki kawasan lautan yang cukup menarik untuk di eksplor lebih jauh. Spot tersebut terbentang seakan anugrah itu sangat mudah ditemukan oleh siapapun yang mempunyai usaha lebih dan tentu niat yang baik. Lokasi keindahan laut Aceh yang paling terkenal tentu saja Lampuuk karena perpaduan pasir putih dan deburan ombak hijau yang tentu sangat menggoda untuk dinikmati keindahannya. Tapi ya tidak semua pantai Aceh seberuntung Lampuuk karena banyak juga pantai Aceh yang secantik Lampuuk tapi lokasinya sulit untuk di tembus oleh usaha manusia. Salah satunya adalah Lhok Keutapang Cut yang masih berada di dekat bibir pantai Lampuuk.

Satu rezeki saya bisa mendapat kesempatan ke lokasi ini, dengan segala usaha dan tentu niat baik Alhamdulillah saya pergi dan pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Mungkin sudah banyak dari kita yang mengetahui Lhok Keutapang, namun kedua spot ini jelas berbeda dan jaraknya pun cukup jauh. Ada beberapa hal yang ingin saya bagi dalam perjalanan saya dan 10 teman saya ke Lhok Keutapang Cut.

1.Jalur yang belum mulus
Ya, ini merupakan tantangan besar bagi saya yang jarang mendaki untuk sampai ke Lhok Keutapang Cut. Jalur menuju bibir pantainya belum terlalu mulus dan masih sedikit meraba-raba. Memang ada bekas pijakan kaki dan rute kecil yang terbentuk. Namun jalur itu tidak selalu tampak, di dukung juga dengan keadaan hutan yang masih tergolong lebat, seakan cahaya matahari masih sulit menembus daratan hutan ini. Tapi keindahan sepanjang perjalan cukup baik, dimana sungai yang ada bisa jadi sebagai teman saat instirahat di masa perjalanan.
Jalur menuju Lhok Keutapang Cut
Mengenai jalur sendiri, kami melewati jalur yang cukup ekstrim, dimana menembus hutan lebat, riak sungai, hingga memanjat batu-batu besar. Saya tidak begitu merekemendasikan Lhok Keutapang Cut bagi kalian yang jarang melakukan pendakian. Tapi ketika kami pulang, ada kelompok pemancing yang memiliki jalur sendiri, dan saya rasa jalur mereka lebih aman dari yang kami lalui. Kesimpulannya apa? Kami salah jalur.

2. Spot memancing yang baik
Memang tujuan beberapa teman-teman saya kesini adalah memancing. Saya tidak begitu hobi dalam hal ini, tapi saya menikmati proses dari pancing memancing ini. Lhok Keutapang Cut sangat cocok bagi anda yang gemar memancing, teman-teman saya tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan ikan. Tentu hal menunggu merupakan salah satu sensani dalam olahraga menancing, tapi Lhok Keutapang Cut menyimpan banyak jenis ikan yang membuat proses menunggu kita sia-sia.

Bagus untuk memancing

3. Bibir pantai Lhok Keutapang Cut
Cukup menarik khalayan saya dengan teman saya tentang membuka Lhok Keutapang Cut kepada publik luas dengan menjadikannya sebagai privat spot untuk sebuah villa pinggir laut. Di dukung dengan bibir pantai yang kecil, seakan hanya kami yang bisa merasakan keindahan alam disana. Karena hal ini juga, ada risiko, yaitu bila air pasang bisa saja kita kesulitan untuk mencari pasir sebagai pijakan.

4. Terdapat banyak gua-gua
Sedikit unik, bahwa banyak terdapat gua di dekat bibir pantai Lhok Keutapang Cut. Proses subduksi bebatuan disana saya rasa sebagai penyebab kenapa gua-gua itu bisa muncul. Tentu itu menambah keunikan dari Lhok Keutapang Cut sendiri. Ukuran gua itu beragam, ada yang besar sekali tapi ada juga yang hanya muat 1 orang masuk ke dalamnya. Pertanyaannya, apakah semua gua ini saling terhubung?
Ukuran gua yang hanya muat tas saya

5. Sungai di sepanjang perjalanan
Walaupun jalur yang sedikit berat namun itu cukup melegakan karena banyak riak suara air yang sangat meneangkan. Suara itu berasal dari sungai-sungai yang menghilir ke pantai Lhok Keutapang Cut. Tapi memang harus hati-hati karena tidak semua kedalaman sungai itu sama, jadi langkah kaki di dalam sungai juga harus di perhatikan. Untuk airnya bisa dibilang jernih, tapi aliran sungai ini tidak begitu mulus karena banyaknya batu-batu besar bekas longsoran dan patahan pohon yang menghalangi jalannya arus sungai maupun jalur jalan pendaki.

Ya itulah, beberapa hal yang menjadi catatan saya dalam perjalanan ke Lhok Keutapang Cut. Yang saya ingin tekankan disini bahwa memang harus ektra hati-hati bila ke spot satu ini, karena memang trek-nya belum begitu rapi, dan bila sudah sampai di pantai Lhok Keutapang Cut juga harus lebih berhati-hati apabila masuk ke pantainya karena arus yang kencang dan pola menarik ke bawah. Sedikit informasi, tahun 2016 lalu ada 2 orang mahasiswa yang hilang di lokasi ini dan sampai sekarang belum di temukan mayatnya karena mengambil spot yang salah untuk berfoto-foto.

Aceh begitu indah, dan dekat sekali bila mencari keindahan di Aceh, jadi syukuri dan jangan lupa, nikmati.
LKC, 07 Januari 2018.

M Fauzan Nur
08/01/2017 ; 12/51
*yang saya tulis ketika menemani ibu saya yang sedang terbaring di rumah sakit.


Jumat, 08 Desember 2017

Review Buku : Negeri Para Bedebah - Tere Liye


Agar tidak terlalu kosong, blog ini akan saya jadikan semacam tempat ulasan saya tentang pengalaman membaca saya. Istilah nya Review, yang akan saya utarakan mengenai apa yang saya alami ketika saya masuk ke dunia yang ditawarkan pengarang dalam bukunya. Mengingat banyak-nya buku yang sudah saya baca sejak saya lahir, lagipun saya tidak begitu baik dalam ingatan, maka saya akan straight forward ke depan saja. insyaAllah..

Pernah salah stau dosen saya mengatakan bahwa kemampuan membaca sangat menentukan kemampuan menulis, yang baik. Seperti Bahasa Inggris, kemampuan Speaking akan sangat mudah dilatih apabila mental dapat sedikit terpancing, tapi banyak yang bisa berbahasa inggris dengan lancar,  namun tidak kuat dalam hal TOEFL. Like me. Hal tersebut saya rasa juga bisa kita temukan dalam hal menulis, mudah saja menulis apapun yang kita pikirkan, misal menulis status WA. Tapi apabila kita berbicara nilai, tidak semua tulisan itu mencerminkan satu bacaan yang baik dan benar, dari segi penulisan hingga informasi yang didalamnya.

Jumat, 24 November 2017

BMKG Blang Bintang : Pesan damai untuk dunia.

      Sebenarnya, bukan hal yang baru nama BMKG sudah dekat dengan masyarakat. Mudah mendapat infromasi tentang cuaca, gempa, dan hal-hal yang sifatnya sedikit “menakutkan”. Bila berbicara BMKG, sangat identik dengan informasi bencana. Tapi stigma itu mulai berubah semenjak bencana gempa dan tsunami Aceh, bahwa informasi BMKG sangat ditunggu oleh masyarakat. Saya belum menemukan riset tentang persepsi masyarakat tentang 4 huruf yang disatukan itu (B-M-K-G). Ada yang tertarik?
         Alhamdulillah. Saya dan teman-teman mendapat kesempatan berkunjung ke salah satu stasiun BMKG yang ada di Aceh, yaitu BMKG Meteorologi di Blang Bintang, Aceh Besar. Mudah saja untuk mencari BMKG ini, karena letaknya ada di komplek bandara terbesar di Aceh, Sultan Iskandar Muda International Airport. Keberadaan stasiun ini telah dari zaman tahun 70an dan sudah menjalankan fungsi penting bagi perkiraan cuaca di Banda Aceh dan sekitarnya. Sedikit, bahwa stasiun BMKG yang saat ini aktif di Banda Aceh dan Aceh Besar yaitu stasiun Blang Bintang yang fokus pada meteorologi, stasiun Mata Ie yang fokus pada kegempaan, dan stasiun Indrapuri sebagai kantor utama, yang merangkum semua data stasiun, dan saya rasa juga sebagai pemantau keaktifan gunung Seulawah Agam. Apabila ada informasi yang keliru, segera di comment ya.
         Mudah sekali menangkap suasana nyaman apabila kita berkunjung di stasiun BMKG Blang Bintang, karena letak-nya yang di pinggir bandara SIM yang menyediakan pemandangan barisan pegunungan sudut timur Aceh Besar, sangat indah. Pelajaran penting juga ketika saya melihat langsung bagaimana balon radiosonde diterbangkan, sebagai alat yang mengirim data cuaca terkini dan tentu bisa menjadi kesempatan untuk memprediksi arah cuaca 3 hari ke depan. Radiosonde merupakan produk Prancis, karena itu standar dunia diterapkan dalam proses penerbangannya.

Persiapan Balon Airosonde

        Menarik dari radiosonde bahwa penerbangannya harus disamakan oleh waktu standar dunia yaitu mengikuti GMT. Kalau di Aceh dua kali diterbangkan yaitu,pukul 06.00 pagi dan pukul 06.00 petang. Dan bisa dibilang dalam skala waktu 1 jam dari pukul 06.00, ada begitu banyak radiosonde yang diterbangkan dari seluruh dunia, dan data tersebut di tunggu oleh badan cuaca dunia untuk memberi gambaran kepada masyarakat tentang prediksi cuaca hari selanjutnya. Bisa saya katakan, radiosonde ini sebagai simbol toleransi dunia. Salam damai dari balon radiosonde.

Alat yang kecil yang sayang pegang adalah sistemnya, terbang dengan balon yang besar.

        Perlu saya informasikan juga, pernah terjadi human error disini bahwa balon radiosonde yang terbawa angin jatuh di permukiman warga dan membuat warga panik. Sensor radiosonde yang berkedip membuat ia terkesan sebagai sebuah bom. Ya sewajarnya memang sebagai masyarakat pro aktif, kita segera melaporkan apabila ada benda mencurigakan jatuh di antara kita. Hal ini membuat satu kesimpulan baru bagi saya: jangan suka berkedip, bahaya.
         Fungsi dari stasiun BMKG ini tentu sangatlah penting, dan perlu kita ketahui bahwa pekerjaan mereka tidaklah mudah. Dengan waktu kerja sistem shift, ada 2 orang yang harus standby setiap hari memantau serta melaporkan setiap kondisi cuaca normal, apalagi abnormal, kepada stasiun utama dan diteruskan kepada masyarakat. Rekomendasi sekali untuk kita berkunjung ke tempat ini karena pelayanan ramah membuat kita mudah menyerap ilmu yang penting ini.
Terimakasih juga kepada Pak Mulyadi Sembiring sebagai pengarah kami selama di stasiun BMKG Blang Bintang.
Pak Mulyadi dengan Balon Pilot nya

 

M. Fauzan Nur (24/11/2017 : 15.11) 

Senin, 06 November 2017

Menghargai Ilmu Bencana di Tanah Aceh

      Kehebatan Aceh dalam menapaki perjalanan sejarah telah membuahkan banyak hal yang penting yang ditinggalkan para leluhur untuk anak cucu. Aceh sebagai tanda besarnya peradaban indonesia akan sejarah, membuat negeri ini sangat kaya akan cerita lama yang bisa menjadi sudut pandang baru dalam pembaharuan keilmuan. Ancaman bencana yang sedang dan akan terus kita hadapi menjadi kelihatan wajar dengan melihat cerita para leluhur pada saat menyelamatkan diri, dan tentu hal itu dapat dikembangkan untuk diterapkan pada saat ini.
      Dari daratan Simeulue dikenal kata Smong untuk menggambarkan tsunami. Metode pengenalan bencana Smong secara turun temurun dilestarikan melalui alunan pengantar tidur bagi anak-anak Simeulue. Terbukti efektif, ketika bencana tahun 2004 lalu Pulau Simeuleu yang secara geografis menjadi daerah terparah diterjang tsunami namun nyatanya hanya memiliki sedikit korban jiwa, masyarakat telah mengetahui penyelematan diri yang benar dengan segera menaiki bukit-bukit untuk menghindari dampak dari Smong yang sudah mereka duga akan datang setelah gempa besar.
Lokasi Pulau Simeulue saat bencana 2004
(https://tantawiansyari.wordpress.com/)

    Penelitian oleh salah satu dosen Unsyiah, Dr. Nazli Ismail dan tim dari Nanyang Technology University (NTU) pada salah satu gua di Kecamatan Lhong, Aceh Besar membuktikan bahwa tsunami telah terjadi secara lebih massive pada zaman dahulu, yaitu 7400 tahun lalu. Metode paleo tsunami yang melihat endapan pasir di gua tersebut membuktikan bahwa Aceh pernah diterjang gelombang tsunami yang lebih besar dari tahun 2004 lalu. Hal ini membuka sudut pandang mata kita, bahwa Aceh telah lama “dekat” dengan bencana tsunami. Ukuran gelombang yang mungkin akan lebih besar bisa saja terjadi lagi, mengingat sifat bencana tersebut yang terus berulang. Namun menurut Dr. Nazli metode ini memberikan gambaran kemungkinan ada masa jeda yang panjang mengikuti tsunami 2004 lalu (Warta Usnyiah, 2017).
      Melihat track record masyarakat Aceh dahulu dalam menghadapi bencana, membuat saya bangga sebagai anak Aceh. Saya masih terus berdecak kagum dengan film arahan Eros Djarot, Cut Nyak Dhien. Film itu membuat saya malu, kenapa? Saya sempat lupa bahwa Aceh ini sangat berharga mahal untuk hanya di pijak tanahnya dan dinamakan sebagai asal provinsi pada KTP. Aceh sebagai provinsi tersudut barat Indonesia menunjukkan kemandirian luar biasa, saat endatu bisa secara gagah berani bertarung untuk tanahnya. Apa kabar kita di masa kini?

Kamis, 12 Oktober 2017

Siklus Manajemen Bencana pada Kasus Bencana di Aceh 2004 & 2016

            


                Berkaitan dengan bencana yang terjadi di Aceh yaitu gempa dan tsunami tahun 2004 dan gempa di Kabupaten Pidie Jaya tahun 2016, pemerintah telah melakukan sistem manajemen bencana yang ditujukan untuk mengurangi dampak kerugian karena bencana dan mencapai pemulihan yang cepat dan efektif. Pemerintah melalui badan khusus yang dibentuk untuk menangani masalah ini seperti BRR NAD-Nias dan tentu saja BNPB yang memang ditunjuk menjadi komando dalam menjamin siklus manajemen bencana dapat berjalan dengan efektif. Berikut akan dijabarkan time table  atau ringkasan dari kegiatan manajemen bencana seperti Tanggap Darurat, Rehabilitasi-Rekonstruksi, Mitigasi dan Kesiapsiagaan yang dilaksanakan pada bencana Gempa dan Tsunami tahun 2004 serta Gempa Bumi di Pidie Jaya tahun 2016.