Senin, 06 November 2017

Menghargai Ilmu Bencana di Tanah Aceh

      Kehebatan Aceh dalam menapaki perjalanan sejarah telah membuahkan banyak hal yang penting yang ditinggalkan para leluhur untuk anak cucu. Aceh sebagai tanda besarnya peradaban indonesia akan sejarah, membuat negeri ini sangat kaya akan cerita lama yang bisa menjadi sudut pandang baru dalam pembaharuan keilmuan. Ancaman bencana yang sedang dan akan terus kita hadapi menjadi kelihatan wajar dengan melihat cerita para leluhur pada saat menyelamatkan diri, dan tentu hal itu dapat dikembangkan untuk diterapkan pada saat ini.
      Dari daratan Simeulue dikenal kata Smong untuk menggambarkan tsunami. Metode pengenalan bencana Smong secara turun temurun dilestarikan melalui alunan pengantar tidur bagi anak-anak Simeulue. Terbukti efektif, ketika bencana tahun 2004 lalu Pulau Simeuleu yang secara geografis menjadi daerah terparah diterjang tsunami namun nyatanya hanya memiliki sedikit korban jiwa, masyarakat telah mengetahui penyelematan diri yang benar dengan segera menaiki bukit-bukit untuk menghindari dampak dari Smong yang sudah mereka duga akan datang setelah gempa besar.
Lokasi Pulau Simeulue saat bencana 2004
(https://tantawiansyari.wordpress.com/)

    Penelitian oleh salah satu dosen Unsyiah, Dr. Nazli Ismail dan tim dari Nanyang Technology University (NTU) pada salah satu gua di Kecamatan Lhong, Aceh Besar membuktikan bahwa tsunami telah terjadi secara lebih massive pada zaman dahulu, yaitu 7400 tahun lalu. Metode paleo tsunami yang melihat endapan pasir di gua tersebut membuktikan bahwa Aceh pernah diterjang gelombang tsunami yang lebih besar dari tahun 2004 lalu. Hal ini membuka sudut pandang mata kita, bahwa Aceh telah lama “dekat” dengan bencana tsunami. Ukuran gelombang yang mungkin akan lebih besar bisa saja terjadi lagi, mengingat sifat bencana tersebut yang terus berulang. Namun menurut Dr. Nazli metode ini memberikan gambaran kemungkinan ada masa jeda yang panjang mengikuti tsunami 2004 lalu (Warta Usnyiah, 2017).
      Melihat track record masyarakat Aceh dahulu dalam menghadapi bencana, membuat saya bangga sebagai anak Aceh. Saya masih terus berdecak kagum dengan film arahan Eros Djarot, Cut Nyak Dhien. Film itu membuat saya malu, kenapa? Saya sempat lupa bahwa Aceh ini sangat berharga mahal untuk hanya di pijak tanahnya dan dinamakan sebagai asal provinsi pada KTP. Aceh sebagai provinsi tersudut barat Indonesia menunjukkan kemandirian luar biasa, saat endatu bisa secara gagah berani bertarung untuk tanahnya. Apa kabar kita di masa kini?

Kamis, 12 Oktober 2017

Siklus Manajemen Bencana pada Kasus Bencana di Aceh 2004 & 2016

            


                Berkaitan dengan bencana yang terjadi di Aceh yaitu gempa dan tsunami tahun 2004 dan gempa di Kabupaten Pidie Jaya tahun 2016, pemerintah telah melakukan sistem manajemen bencana yang ditujukan untuk mengurangi dampak kerugian karena bencana dan mencapai pemulihan yang cepat dan efektif. Pemerintah melalui badan khusus yang dibentuk untuk menangani masalah ini seperti BRR NAD-Nias dan tentu saja BNPB yang memang ditunjuk menjadi komando dalam menjamin siklus manajemen bencana dapat berjalan dengan efektif. Berikut akan dijabarkan time table  atau ringkasan dari kegiatan manajemen bencana seperti Tanggap Darurat, Rehabilitasi-Rekonstruksi, Mitigasi dan Kesiapsiagaan yang dilaksanakan pada bencana Gempa dan Tsunami tahun 2004 serta Gempa Bumi di Pidie Jaya tahun 2016.