Minggu, 09 Juli 2017

GERAKAN PEMUDA BERSIHKAN MESJID #Aceh2017

    Kemarin ada yang tanya kenapa saya tidak mau keluar Aceh cari rezeki dan hidup jauh dari keluarga, saya tentu tidak ragu akan pertanyaan seperti ini. Saya mantap menjawab : “saya nyaman kalau ada suara adzan orang masih tau kalau itu tandanya kita sholat, saya mau hidup di lingkungan seperti itu”. Ketika SMA, saya sangai ingin hidupdi luar dan cenderung membenci Aceh dan salah satu teman SMA saya berkata, bahwa sampai dimanapun saya akan tetap menjadi orang Aceh. Makin kesini insyaAllah saya semakin sayang dengan tanah Aceh, keren sekali ketika saya baca sejarahnya. Tanah yang berisi sejarah dan amanah.

     Aceh memang terkenal dengan syariat Islam dan itu sudah dari dulu didengungkan ketika para endatu mempertahankan tanah Aceh dari penjajah kafir. Patutlah kita sebagai generasi penerus minimal tahu akan sejarah itu dan lebih lagi ada rasa tanggug jawab membawa nama baik tanah kita ke mata dunia, karena bukan hanya terkenal kaya raya, orang Aceh juga terkenal akan “mental raja” yang memang memegang “tahta” dimanapun dia berada. Semoga paham.

   Saya teringat kata Ustadz Abdus Somad di salah satu ceramah online Beliau, bahwa ia membanggakan Aceh sebagai daerah yang berhasil dari dulu konsisten akan syariah Islam, karena apa? Karena Raja atau Sultan kita terdahulu langsung memegang kekuasaan sebagai kepala pemerintahan, dan menjalankan sesuai tuntutan Islam. Jadilah Aceh yang terkenal akan ketangkasan di medan perang sampai melebar sayapnya ke negeri Malaya ini, benar-benar di segani sebagai daerah yang tidak “sembarangan”.

     Aceh yang identik dengan Mesjid Raya Baiturrahman, yang merupakan mesjid yang punya andil besar dalam sejarah Aceh, yang juga ada di pusat kota Banda Aceh ini menjadi icon akan Pariwisata Aceh dan tentu masyarakat Aceh sendiri. Jadi jangan sampai nanti Anda, orang Aceh asli sudah melalangbuana hingga keluar negeri tapi belum pernah datang ke Mesjid Raya Baiturrahman, jangan datang saja, wajib juga sholat didalamnya. Karena apa? Saya mengingatkan wahai rakan, Mesjid Raya Baiturrahman adalah sebuah rumah ibadah Islam yang terus aktif dalam kegiatan keagamaan, yang juga memang adalah sebuah bangunan bersejarah. Jadi jelas salah kalau anda datang hanya untuk foto dan upload. Apalagi pakaiannya... hmmm lah.

Kamis, 08 Juni 2017

Derajat Kaum Emak


     Judul yang sedikit berani saya rasa, tapi tak apa sedikit untuk berbagi apa yang saya lihat. Banyak yang sudah membuktikan hal ini bahwa “mereka” merupakan makhluk istimewa. Saya mau kasih puji-puji dulu;
“Wanita bagi pria dewasa adalah “penentu langkah” dan bagi kami, pria menuju dewasa wanita adalah “pemacu langkah”.
          M. Fauzan Nur (2017)

          Islam sangat memuliakan para wanita, banyak ayat di Surah An-Nisa dan tentu di Surah Maryam yang memberi arti bahwa wanita bukan hanya sekedar sumur, dapur, dan kasur. Saya ragu membubuhkan huruf kapital di kata “hanya” yang tadi. Begini, bukan berarti wanita spesial, lalu lupa bahwa mereka adalah wanita itu sendiri. Sudah dari sana, kalau laki-laki diciptakan lebih kuat dan lebih besar dari wanita. Karena itu, kaum kami wajib bekerja untuk mencari nafkah. Wanita sebagai pendamping harus setia pada kodratnya bahwa hasil maksimal tidak bisa diraih sama dengan kaum laki-laki.

Jumat, 13 Januari 2017

Kekuatan Mendengar

Sangat simple.

Kunjungan seorang sahabat yang sebenarnya sudah lama menjadi musuh utama dalam berbagai hal, namun hal itulah yang membuat saya akhirnya kembali ke dunia ini, dunia yang saya menjadi siapa saya sebenarnya.

Kekuatan tulisan ada pada pikiran anda, niat anda, dan kekuatan mata pembaca anda. Saya berpendapat sederhana mengenai apa yang saya sebut karya, dimana ada saya di dalamnya dan saya mewakili berbagai spesifik sudut pandang yang salah satunya atau beruntungnya saya, apabila karya itu mewakili banyak sudut pandang yang sama dalam memandang  kehidupan.

Sebaris demi sebaris mungkin sulit bagi kebanyakan orang, percaya saja kawan, bagi saya menulis adalah hal yang sangat mudah. Cukup kekuatan jari dan kekuatan pikiran yang harus seimbang. Inspirasi ada kapan dan dimana saja, mudah dan usahakan untuk tetap memudahkan. Sedikit saran dari saya, tulisan yang mempunyai nilai tentu akan lebih baik.

Hal sederhana lain, yang kembali saya tulis ulang.

Percakapan antar sahabat yang terjadi pukul 20.30-21.00 malam ini yang dilakukan di sebuah tempat parkir sambil posisi “semi-olahraga” adalah layaknya sebuah mukjizat bagi saya. Kelelahan saya selama sebulan ini dan puncaknya ketika maghrib tadi, Dijawab Allah dengan sahabat yag pulang kampung dengan sejuta cerita inspiratif, namun sayang sedikit “bernafsu waktu”, sedikit saja.

Penyakit ini sudah saya tulis sekitar 3 atau 4 bulan lalu (anda bisa lihat di judul sebelum tulisan ini). Saya sebut ini sebuah penyakit, karena tidak menggunakan indera pendengaran dengan baik, namun hanya fokus pada indera lain. Kawan, sekarang saya bekerja di sebuah Yayasan dan terserah orang menganggap saya apa, tapi saya adalah orang yang sangat rendah di ruangan itu, tapi niat saya insyaAllah baik kawan, saya mau menjadi orang yang membuat kerendahan itu menjadi pijakan yang baik untuk lompatan orang lain. Saya harap semuanya baik-baik saja membaca kalimat saya tadi.

~~~~~~~~~~~~~

Sudah lama ini menjadi topik yang legit di otak. Saya sangat marah ketika ada orang yang tidak menghargai orang lain, sangat tidak manusiawi. Saya belum mengatakan saya sudah sempurna dalam hal itu. Ini juga menjadi bahan baik untuk langkah saya ke depan, ketika ada “contoh kasus” di depan mata saya dan apa boleh buat, saya kembali senyum.

Wahai manusia, bukankah sulit hidup sendiri? Tentu kita juga ingin menjadi yang terbaik dan sendirian ada di posisi itu, suatu masa yang kita yang menjadi istimewa atas kerja keras kita. Tapi bukankah pengetahuan ada untuk kita bagi? Kekayaan akan kekal apabila kita berbagi? Bahkan kekuatan juga bernilai apabila kita gunakan untuk melindungi?

Saya berpikir bahwa kita sudah sulit temukan manusia yang mau hanya diam dan mendengar. sulit sekali mencari teman yang seperti ini, yang ada dan selalu sabar. Saya berusaha demikian tapi saya mengakui bahwa kadang hati saya melawan apabila cerita sudah terlalu panjang. Saya bangga bahwa saya pernah dan kadang dipercaya untuk menjadi ladang amalan curhat teman-teman saya. Setelah itu, saya hanya memohon pada Allah bahwa kegiatan saya tadi bisa menghapus dosa-dosa saya, walau kadang saya merasa malah saya bertambah dosanya karena memberi saran yang menyimpang.

Saya harus akui, posisi saya di tempat saya bekerja saat ini saya dapat karena menerapkan hal tersebut. Saya harus mendengar dan berusaha untuk tetap terlihat mampu untuk terus mendengar. Saya kesampingkan bisnis selanjutnya dan mencoba ada di posisi yang berbicara. Saya tidak mendapatkan pengakuan langsung atas kerja (yang bagi saya adalah kerja keras) tapi saya bisa melihat bahwa satu atau dua sudah puas dengan apa yang saya upayakan. Hati kawan, semuanya bersumber dari sana. Uang sudah ada Yang Maha mengatur.

Tulisan ini saya niatkan 3 pararaf tapi saya sangat rindu menulis, jadi ya sedikit panjang.

Tujuan kali ini murni membicarakan pendengaran yang bermasalah. Hargai tolong siapapun itu dan biarkan telinga anda bertugas dengan baik.


Jangan lupa senyum,


M. Fauzan Nur (13012017 : 23.18)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Belajar Mendengar

         Waktu kecil, pernah kita diajari bagaimana cara berjalan dan tentu orang tua juga sangat menantikan kata pertama saat kita bicara, proses tumbuh dan berkembang terus berlanjut dengan semakin banyak mempelajari hal-hal baru dalam proses hidup di dunia dan bekal untuk di akhirat nanti. Lingkungan membentuk pribadi kita, ketika kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita menjadi semakin bisa menghargai siapa saja. Pelajaran-pelajaran yang bangku sekolah ajarkan jelas tidak cukup, keluar dan cari pelajaran yang sebenarnya.

        Warung kopi menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk mewarisi  berbagai pengalaman baru. Semua pengalaman yang di dapat dari dunia luar dan baru saja di lihat seakan tidak sabar untuk dibagi di depan forum, dan jangan lupa secangkir kopi atau teh manis yang beruap untuk seorang Lambung-isme, seperti saya. Satu hal yang menjadi menarik adalah, semua manusia berlomba melukiskan pengalaman itu semenarik mungkin agar benar-benar menjadi buah bibir di hari itu atau bahkan menjadi ingatan yang menggelitik ketika memori dituang kembali. Tapi, semua orang lupa bahwa ketika semua orang ingin berbicara siapa yang akan mendengar?

Senin, 01 Agustus 2016

Passion = Nafsu


Bukan saya yang bilang!

        Setidaknya itu yang dikatakan aplikasi kamus bahasa inggris saya ketika kita mengetik “passion” di kolom pencarian dan menemukan kata Nafsu sebagai bahasa lain dari kata Passion, bahasa lain itu adalah bahasa kita, Bahasa Indonesia.

        Saya tidak maun main solo dalam mengartikan dan menerbitkan tulisan ini. Saya koordinasi dengan Google untuk kata itu, dan ketika saya mengetik “passion”, mesin pembantu otomatis mencoba menawarkan bantuan dengan menyambungkan kata “… adalah” dan menjadi “passion adalah” dan google mulai mencari.. dan saya menemukan,

Selasa, 26 Juli 2016

Terbang bersama "Rumba Airline"



                Pagi tadi saya ikut English Class di Rumah Bahasa, dan dapat pertanyaan dari Mr. Amru : “do you like writing?”, saya spontan jawab “No.” dan seketika saya mikir “tapi aku punya blog…”, terimakasih atas pertanyaan itu, saya kembali menulis.

                Menarik sekali program Rumah Bahasa. Saya tidak begitu sering memang mengikuti kelas demi kelas di dalamnya, tapi sepanjang beberapa kali saya ikuti, Alhamdulillah saya tidak pernah kecewa terhadap apapun yang terjadi di kelas. Tapi sayang mau di sayang.. banyak yang belum tahu tentang manfaat program ini karena sedikitnya peserta. Makanya dengan tajuk ini, saya berniat untuk promosi Rumah Bahasa, tapi saya juga baru disitu jadi ya silahkan kunjungi universitasbersama.com untuk info lebih lanjut karena apapun mengenai Rumah Bahasa adalah Gratis. Urusan promo, done.

Selasa, 28 Juni 2016

Kotak Ramadhan

Alhamdulillah.. Kita buka tulisan kali ini dengan kata syukur. Allah Luar biasa. Sesuai tanggal release, hari ini sudah seminggu menjelang akhir dari Ramadhan. Masih hangat rasanya kalau saya ucapkan Selamat bagi Anda yang (masih) beruntung mendapatkan tiket menikmati Ramadhan dan Selamat bagi Anda yang merasakan hal yang luar biasa selama Ramadhan tahun ini. Yang manapun kita, patutlah mengucapkan kembali Alhamdulillah. 

Khutbah dimana-mana sudah kasih sirine bahwa Ramadhan akan segera pergi dan kita di 10 terakhir harusnya lebih gigih akan ibadah, Lailatul Qadar yang Allah Janjikan akan hadir di 10 terakhir and who can got it for this year? Kita hanya urusan berusaha, Allah Yang Punya Keputusan. Damaikan hati, tenangkan jiwa, dan ini bukan iklan sirup.

Kotak Ramadhan

Alhamdulillah.. Kita buka tulisan kali ini dengan kata syukur. Allah Luar biasa. Sesuai tanggal release, hari ini sudah seminggu menjelang akhir dari Ramadhan. Masih hangat rasanya kalau saya ucapkan Selamat bagi Anda yang (masih) beruntung mendapatkan tiket menikmati Ramadhan dan Selamat bagi Anda yang merasakan hal yang luar biasa selama Ramadhan tahun ini. Yang manapun kita, patutlah mengucapkan kembali Alhamdulillah. 

Khutbah dimana-mana sudah kasih sirine bahwa Ramadhan akan segera pergi dan kita di 10 terakhir harusnya lebih gigih akan ibadah, Lailatul Qadar yang Allah Janjikan akan hadir di 10 terakhir and who can got it for this year? Kita hanya urusan berusaha, Allah Yang Punya Keputusan. Damaikan hati, tenangkan jiwa, dan ini bukan iklan sirup. 

Kata-kata yang sering kita ucap kalau sudah di 10 terakhir apa? “Tak Terasa Ya” *emot senyum pipi merah. Tapi saya kontradiktif ketika ada khutbah yang bagus saya rasa isinya, kalau kita seharusnya jangan berkata “tak terasa” karena itu berarti kita memang tidak merasakan apa-apa selama Ramadhan hari-hari sebelumnya. Toh, ini bulan special, luar biasanya orang berlomba-lomba untuk mencari Ridha Allah, kita yang mengaku “tak terasa” akan di ultimatum oleh Dunia ; “ente kemana aja?”. 
Pelajaran juga ni untuk aku sendiri. 

Berbicara kualitas, aku ga bisa menggurui disini, taraf ilmu masih meraba-raba, dan istiqomah juga belum tampak sangat wujudnye, jadi kita berbicara kualitas dengan sederhana saja. Sekarang, kehidupan yang sudah lewat memang pelajaran. Banyak kiri kanan yang nguing-nguing bongkar telak masa lalu kita, “coba dulu ke ambil kerja disitu.. kan ga kek gini” itu satu contoh. Ada lagi, “coba dulu Adek habis tamat langsung sambung di Unsyiah, sekarang pasti udah selesai” dua. Cukuplah, pedih hati ini melihat kau dan dia.
Orang menilai kualitas kehidupan kita memang bebas tanpa arah, dia wajar bersinergi dengan otot rahang dalam memberi klasifikasi untuk satu proses panjang bernama kehidupan, tentu yang sudah lewat. Akan baik tentunya bila kita ni yang kena serang, akan legowo dan senyum smile pipi merah ketika semua penilaian ternyata salah alamat. Simple sekali, ketika dunia menghakimi tetapi hati ingat Allah dan panasnya neraka.. Ya Allah Ya Rabbi jauhkan kami dari siksa neraka. Amiin. 

Kita tidak bisa salahkan orang lain akan itu, perhatian itu tanda sayang. Lebih berat ketika kita tidak ada yang menegur dan berjalan semaunya sendiri. Mana-mana tau kan memang teguran itu benar dan bagus untuk muhasabah kita mengambil langkah selanjutnya. Susah memang, sangat susah malah untuk ikhlas akan penilaian kualitas. Kadang senyum manis menjadi jawaban kemenangan di tengah medan pertempuran, tapi jari yang ada seribu ini tak bisa ditahan untuk membuat status di dunia maya. Yasudah ikhlaskan saja lah, daripada susah tidur malam. 

Apa yang kita lewati? Apa yang kita dapat? Apa yang berubah? 

Tulisan ini begitu putih tanpa noda, mudah sekali melakukan pencitraan manusia disini. Tapi Allah Maha Segalanya, akan selalu Dekat dengan kita dan Maha Tahu isi hati kita. Sifat ihsan yaitu sifat dimana kita selalu ingat bahwa Allah Melihat kita, adalah sifat ampuh dalam mengatasi pelik rindu akan maksiat. Ramadhan menjadi tabu ketika kualitas kehidupan yang akan kita coret di buku catatan amal kita, kembali mendapat nilai merah. Kita tau mana yang baik mana yang buruk, kita menikmati kesalahan demi kesalahan, kita memilih diam akan diri kita yang terus dekat dengan.. syaiton. Sampai waktu akhirnya diam. dan kita sadar kita belum apa-apa. 

Ngeri ga tu?

We never been alone kawan, kita selalu ada Allah untuk tempat meminta. Kita yang putuskan sekarang, akhirat itu nyata dan pasti lalu apa yang kita lihat di depan kita sekarang itu.. akan termpampang di monitor yang kita akan menonton-nya sambil menangis dan berkata “.. andai aku dikembalikan ke dunia”. 

Kita muslim semua bersaudara, mari yang sudah lihai dalam berlari dari nikmat dunia, ayolah sini bantu kami. Raih kami dengan ajakan yang meyakinkan, masukkan kami ke dalam nikmat ukhuwah islam. Yang sederhana, yang kaya, yang membuat kita sadar bahwa kita ini tiada. Allah Maha Segala. Percaya kawan, kita di akhirat bersama siapa yang kita sayangi. Wahai kawan-kawan muslim, sayangilah kami dan doakan kami.

Ramadhan akan pergi… dan was was lagi akan ombak duniawi. 
Tapi tunggu dulu, dia belum benar-benar pergi.. ada satu pesan di whassap yang masuk tadi pagi, isinya menarik. Bahwa maksimalkan di hari akhir bagi yang tidak sempat di awal, dan terus tingkatkan bagi yang sudah bagus di awal. Kita masih ada kesempatan, bergegas.

Ramadhan hanya sebulan setiap 12 bulan. Kita harus melewati 11 bulan tanpa payung Ramadhan, dan kawan.. umur urusan Allah. Jaminan besok masih hidup, belum ada lembaga yang berani mengeluarkan fatwa untuk hal ini. 

Kotak ini bernama Ramadhan, di dalamnya kita merasa save dari dunia. Setidaknya melihat masjid begitu ramai ketika siang panas, menjadi satu kenangan indah yang membuat kita rindu. Belum lagi, masjid-masjid ramai dengan jamaah sholat malam di 10 terakhir, masyaAllah.. pemandangan yang membuat hati bergetar. Kotak ini berisi begitu banyak hal mewah, yang kita bebas untuk memilih ambil atau lalu. Sadar bahwa kotak ini hanya sebulan adalah ilmu pasti bahwa waktu adanya berbatas. Tapi kotak ini masih di tangan sekarang, jangan lupa untuk bawa dia kemana bisa di bawa. Biarkan pengaruhnya bertahan lama dan mengubah kualitas hidup kita menuju akhirat. 

Maafkan saya yang salah.. 
Yoklah, sama-sama kita hijrah. Bantu saya.
M. Fauzan Nur. 

Ramadhan 23 
Thusday (280616 ; 14:59)

Pemandangan Sholat Malam di Mesjid Agung Al Makmur, Banda Aceh



Minggu, 29 Mei 2016

Wajah Anda di Media Sosial



saya kembali…

Lumayan pusing beberapa minggu ke belakang, tapi Alhamdulillah pikiran dan hati masih sehat. Dapat kesempatan untuk jadi tentor pelajaran SPMB, awalnya panik sendiri ketika kata “Harus” dan “Mau tidak Mau” menjadi TARGET. Lumayan bikin stress, ketika Biologi di depan mata dan tambah lagi beberapa pelajaran lain; Sejarah, Sosiologi, namun ada Ekonomi sebagai healing. Jadinya nostalgia ketika soal-soal tentang Ekonomi kembali di bahas, tahap ke tahap, kurva ke kurva, dan kurva ke suara. Seru lagi karena dapat dua siswi private yang memang sangat menarik dan Alhamdulillah sangat mengerti keterbatasan Mister-nya (maaf -,-). Pengalaman baru dan silahturahmi baru lagi.. sangat sehat.

Aku sendiri sudah lama tidak buka soal-soal SPMB jadi ya harus menghabiskan banyak waktu untuk memutar kenangan-kenangan indah pelajaran sekolah, namun tidak sedikit juga yang memang baru aku dapat, Googling adalah sahabat.

Lagi pegang Hape? Kalau tidak, tak apa.
Yakin aku kalian juga pernah punya notification sebanyak ini, dan bahkan kalian punya yang lebih rame.

dag dig dug kalau liat notif
Tidak bisa bilang tidak, media sosial sudah mengambil waktu manusia terlalu banyak. Kalian yang “Tidak Setuju” karena memang kalian masih aman dengan Hape tinat tinut dan tetap konsisten bahwa sms dan telpon masih cukup mengamankan kantong, kalian hebat. Tapi kawan, aku ajak kalian lihat ke sekitar.. lingkungan kita telah tercemar oleh radiasi MedSos. Kalian tidak, tapi kita kebanyakan adalah iya. Ketika ingin tidur, entah siang atau malam, aku perhatikan dan bahkan aku sendiri mengakui bahwa Hape haruslah di cek dulu, mana tau ada pesan dari Telkomsel. Begitu juga ketika bangun, walau tangan tidak meraih tapi hati tetap mengarah kesitu, ke Hape. Ada hadist, ketika bangun tidur dunia yang di pikirkan, maka semakin bingung dan sibuklah kita dengan dunia itu, tentu juga ada hadiah lain berupa rusaknya kesehatan pikiran.

Media sosial sebenarnya tidak selamanya buruk, prinsipnya sendiri MedSos yang diwakili oleh teknologi  dibuat untuk memudahkan manusia. Aku akan menyebut merk; Facebook, Twitter, Whassap, Path, BBM, Instagram, dan banyak lagi yang sejenis, yang menurut ku sama-sama aja fiturnya, beda warna dan beda tekan dikit.  Coba kita simak tujuan-tujuan dari penggunaan MedSos, spontan aku memikirkan beberapa tujuan, mana tau ada yang memang “Loe-banged” :

1. Sharing.
Kesannya aman dan save ketika MedSos di gunakan untuk tujuan sharing. Tapi kita tarik jauh sedikit, sharing disini ada tujuan lain lagi. Sebuah hal yang mau di share ke orang rame tujuannya tentu agar ada umpan balik yang kita terima, mungkin berupa Love untuk Path atau Like untuk Facebook, bahkan ada yang mau spending time lebih untuk meninggalkan komentar. Naik derajat, kesannya famous, lebih lagi waktu jumpa di luar yang dibahas itu-itu lagi, makin runcing lah tu dagu. Nah kalau itu tujuan Sharing-nya, bisa di bilang itu Pamer.
Sharing yang English dari Berbagi, tentu hakikatnya ada sesuatu yang bisa bermanfaat dari apa yang kita bagi. Aku menulis di Blog, aku mau apa yang aku rasakan tentang lingkungan ini menjadi perwakilan ketika diam adalah bahasa di dunia luar.  Ya, walaupun viewer saya tergolong rendah, saya tetap akan menulis.

2. Bangun Imej
Pencitraan. MedSos bisa untuk pencitraan, jelas. Punya pengalaman ga enak dengan ini, aku terjebak di satu MedSos yang bisa selalu update dimana dan dimana, dan pergi ke satu tempat karena memang salah satu tujuan nya “biar dikira anak nongkrong”. Dan tentu saja itu bukan satu prilaku yang sehat, ini juga nyangkut dengan pengalaman Ngopi yang pernah aku share di tulisan sebelumnya. Ketika ngopi dan kawan-kawan sudah di depan mata, suara bukan keluar dari mulut tapi dari tuts Hape.
Tapi kita tarik garis panjang lagi untuk yang ini, kadang citra itu terbangun dengan sendirinya. Sering nge post yang alam-alam, ya karena memang hobi naik gunung. Sering nge post foto makanan, ya karena memang hobi masak (bukan hobi makan). Just keep be your self, tapi tetap ada kadar. Soal update makanan, pernah kalian pikirkan? Ketika kita update foto makanan yang kita makan, ada orang yang menangis kelaparan di luar sana.

3. Jualan.
Entah kenapa yang muncul langsung pikiran jelek ketika ingat yang ini. Broadcast sebentar-sebentar, DP gambar sepatu dan seprei, atau kue yang bentuk nya entah apa tapi harga mengapa. Tidak salah sebenarnya mereka memanfaatkan dengan baik urusan dompet ke dalam MedSos. Ada potensi pasar di sini, banyak manusia konsumtif yang suka membuka MedSos untuk melihat produk-produk yang memang ia butuhkan bahkan tidak begitu dibutuhkan ataupun suatu saat ia kira akan dibutuhkan (wanita). Kalau yang hobinya broadcast, coba di alihkan menjadi sebuah grup saja yang berisi konsumen tetap atau ya juga calon konsumen, intinya lihat-lihat juga kalau mau broad, karena lelaki tidak memakai seprei bunga Lavender, kami memakai Mawar.

4. Silahturahmi.
Ini dia. Ketika jarak memisahkan dan rasa rindu hadir tidak bisa tidak haruslah dilampiaskan kalau mau tidur nyenyak. MedSos menjawab masalah ini dengan cukup baik. Era saat ini memang sangat mengandalkan media sosial untuk menyambung tali silahturahmi. Menarik ketika sebagian kita lebih akif berbicara di MedSos daripada ketika bertemu langsung, kesannya ada yang dia tutupi dari dirinya atau bahkan dia merasa dunia yang sesungguhnya bukan lagi tempatnya, miris sekali.
Mengenai hal ini, aku sudah hampir 2 tahun tergabung dalam One Day One Juz (ODOJ) yaitu program mengaji minimal 1 juz setiap harinya. Disini kami sangat mengandalkan MedSos, karena anggota ODOJ ini berasal dari seluruh Indonesia, bahkan beberapa ada di Negara lain. Kami menjalin ikatan di Whassap dan menemukan komitmen untuk terus berjalan bersama dalam membangun karakater mencintai Al-Quran. Pernah juga saya temukan, ada kajian online yang dibuat. Jadi penceramah menyampaikan materi melalui pesan-pesan di Whassap dan peserta membaca kajian itu, dan tentu ada time keeper yang menjaga porsi waktu untuk penceramah menyampaikan materi dan peserta mengajukan pertanyaan. Aku belum pernah mengkuti kajian online, tapi aku memperhatikan hal seperti ini sangat menarik.



5. Memori.
MedSos bersifat jangka panjang, kita nge save kenangan kita di dunia lain yang lost lasting selama dunia kita yang sebenarnya masih bisa menciptakan jalur masuk berupa aliran teknologi yang bernama internet. Foto-foto dan tulisan identik sekali untuk ini, Instagram ku rasa mewakili dengan sempurna. Kita membuat album sendiri tentang memori kita di MedSos, ada risiko tentu saja pada saat orang lain mampu dengan mudah melihat apa yang berharga untuk kita sebut sebagai sebuah kenangan indah.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Aku yakin banyak lagi, tujuan-tujuan lain yang mungkin lebih spesifik yang mewakili kita di Media Sosial kita masing-masing. Berusahalah tetap berbagi dan itu berguna. Dunia maya kadang suka ribet karena disini sifatnya semu, jadi tidak begitu jelas maksud kalimat-kalimat yang kita update. Berbeda yang baca, sudah berbeda juga sudut pandang yang diambil.

Fenomena Meme
Saat ini, kok jumpa manusia yang pegang Hape dan senyum-senyum sendiri, kemungkinan besar… dia Gila.
 
INGAT! Baca nya "mim"

Saya salut sama yang yang buat-buat seperti ini, kadang isinya simpel tapi berani. Makanya itu orang kreatif akan selalu menang di pasaran. Fenomena Meme sudah muncul ketika MedSos mengambil waktu kita terlalu banyak. Ada orang kreatif yang tidak dibayar yang mau buat kita ketawa dengan ulahnya. Kadang hanya diwakili gambar atau juga lebih komplit yaitu gambar beserta tulisan nya. Ada yang nostalgila, foto-foto zaman dulu yang dibuat mewakili keadaan saat ini. Ada juga kata-kata motivasi yang aku bilang brilliant, yang kadang isinya simpel tapi kenak. Tapi tidak sedikit juga yang berusaha untuk lucu (read: garing) atau bahkan ada sedikit SARA.

BACA!

Ketika akhirnya kamu dewasa dan menyerah pada dunia semu ini, kamu menemukan kehidupan di luar ini semua yang lebih nyata dan lebih berharga. Dunia yang Allah beri untuk kita ada untuk kita jaga, ingatlah bahwa kita manusia banyak dilebihkan di berbagai sisi kehidupan dan kita adalah pemimpin, minimal untuk diri kita sendiri. Apapun yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan, apapun itu. Aku berkaca juga ketika dunia sebenarnya sudah sangat tak tau arah mau kemana, karena waktu habis untuk membangun citra di dunia yang lainnya. Malu rasanya dengan umur dan tentu saja pada Allah Yang Selalu Memberi kesempatan setiap pagi untuk bangun lagi ke dunia, tapi bukannya bertambah baik tapi kembali berbuat kesalahan.

"Dunia yaitu tanah adanya di bawah dan langit adanya di atas"

Harus yakin, kita semua adalah worth it. Everyone is unique and everyone must be special. Allah Menciptakan kita dengan gen yang berbeda-beda dan yakinlah bahwa kita punya sifat baik untuk sesama kita. Tinggal kitanya sekarang, mau atau tidak menunjukkan kita yang baik untuk mewakili wajah di dunia sosial kita. Waktu tidak terulang, waktu tetap akan berjalan sampai akhirnya ia selesai dan kita pun selesai. Hidup pertempuran antara baik dan buruk, waktu mewakili itu semua. Berikan satu yang kamu yakin baik dan itu bisa membuat kebaikan, gunakan yang baik itu untuk satu wajah yang mewakili kita untuk diingat orang lain. Usahakan konsisten, karena setiap waktu kita harganya mahal.

M. Fauzan Nur (250516 ; 23.14)

Minggu, 08 Mei 2016

Air Terjun Pucari, harta karun masyarakat Jantho.

Kali ini aku yang kena virus N2KPG. Rezeki kali ini Allah Beri kesempatan untuk melihat keindahan dalam Jantho, Aceh Besar. Tepatnya di Gampong Bueng. Lokasi bernama Pucari, bacaranya kurasa biasa aja, ngga usah aksen Brith atau Breuh, ya.. PU-CA-RI. Lokasi ini berupa air terjun tujuh tingkat yang berada di tengah hutan belantara perbukitan Jantho yang masih satu jiwa dengan Bukit Barisan, yang memang membentang dari Sumatera Utara hingga negeriku Aceh.

Jarak yang membentang antara aku dan kamu…


Semangat tentu saja yang utama kalau udah yang gini-gini. Aku udah lama target untuk sampai ke Pucari, dan ada saja alasan yang meghalangi untuk sampai kesana. Tapi Alhamdulillah, kali ini dengan tidak begitu banyak planning dan rombongan juga tidak terlalu dapat di sebut rombongan (13 orang), kami sampai dengan selamat ke Pucari. Kembali ke rumah membawa kenangan dan pelajaran baik yang diberikan Jantho (lagi lagi), serta beberapa mark di kaki yang menjadi bukti kami telah sampai di Pucari.

Lokasi air terjun ini masih bisa di bilang sulit untuk di tembus, medan yang cukup jauh dan lokasi yang kurang promosi (sorry) membuat kita sedikit meraba-raba untuk bisa sampai kesana. Pucari kan adanya di Jantho, dan kami adanya di Banda Aceh. Jarak Banda Aceh – Jantho yang lumayan sekitar 45 KM bisa kita lewati dengan memakai kendaraan pribadi, aku sarankan dengan motor saja. Lalu dari Jantho, harus cari lagi yang mana Kampong Bueng. Tidak sulit karena memang kampung tersebut sudah terkenal ya karena Pucari ini, jadi random saja nanya sama siapa yang jum
pa, insyaAllah dapat. Masyarakat kampong Bueng pun sudah membuat jejak dengan menorehkan cat putih di aspal untuk arahan menuju mereka.

Di kampong Bueng sendiri sudah banyak pemuda lokal yang memang menjadi guide (penjamin) kita selama di Pucari. Menurut guide kami kemarin, masyarakat disana tidak mengizinkan siapapun masuk ke lokasi air terjun Pucari tanpa pengawasan dari masyakarat kampong. Tentu ada biayanya, minimal 250 ribu/rombongan (kami harus membayar lebih 50 ribu karena dinilai terlalu lama). Dengan perjalanan yang cukup jauh, aku rasa kita memang butuh pengawasan dari orang yang paham kondisi hutan disana dan tentu kita juga mau mereka paham arti kata “tamu” dan “bayar”, artinya yaitu “menghargai” dan “sabar”. Guide disana mayoritas ku lihat sudah cukup lihai dalam membawa tamu, mereka membawa santai semua suasana dan berusaha membuat nyaman.

Dari kampong Bueng, setelah mendapat dua orang guide, kita harus menaki bukit lagi sekitar 2 KM dengan motor untuk sampai di pos terakhir, sebuah menara di tengah bukit yang memang ku perhatikan banyak terdapat di sekitaran hutan Aceh Besar. Setelah memastikan motor aman terkunci dan perbekalan siap, kita mulai perjalanan sesungguhnya menuju lokasi air terjun Pucari.

Perjalanan di mulai di bukit ini menuju hutan di bawah sana

Aliran sungai ini membawa aku padamu…
Selanjutnya, jarak yang harus ditempuh adalah 6 KM, dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau kita bandingkan jarak itu seperti jarak antara persimpangan Jambo Tape hingga Pantai Syiah Kuala. Tapi jangan khawatir, itu tidak se-membosankan perjalanan di kota. Hutan lebat yang hijau alami dan ber belas-belas aliran kecil sungai yang mempunyai efek magis untuk pikiran dan tentu saja, untuk hati.

terima endorse produk sabun

Jujur saja, kenapa aku sangat tertarik dengan lokasi ini yaitu karena tracking nya. Bagiku air terjun tidak terlalu aku prioritaskan, apalagi kami kesana pada musim kemarau yang memang dipastikan air di sana tidak sebanyak yang beredar di foto-foto, yang mudah dilihat apabila anda memberikan keyword “Air Terjun Pucari Jantho” pada mbah Google. Debit air terjun pada musim kemarau tentu habis tergerus oleh tanah dan dengan intensitas hujan yang tidak konstan membuat debit air sungai tidak menunjukkan susunan yang garang, tapi hikmah nya apa? Lokasi Pucari yang memang harus melewati banyak sungai, jadi mudah dan insyaAllah aman kita lewati.

Aku santai menghitung jumlah sungai yang harus kita sebrangi, tapi aku menyerah di jumlah yang ke 7. Fokus ku berubah ke dua teman ku yang sudah kehilangan energi dan harus terus di awasi agar tidak ketinggalan jauh, dan guide kami yang satu yang berjaga di belakang terpaksa harus menahan kesal juga (kurasa inilah sumber uang tambahan 50 ribu itu) karena kami memakan waktu cukup lama, kami pun 13 orang terpisah jarak cukup lama, 9 orang temanku sudah di depan dan kami ber-4 harus ketinggalan di belakang. Bagiku tidak masalah, kesempatan untuk ku menikmati aroma alam yang sangat menenangkan tanpa harus terburu waktu. Ya, karena tujuan ku adalah ini, kaki ku diserang aliran lembut sungai sementara hutan di sekitar ku asyik berlomba memberikan oksigen murni yang tentu insyaAllah menyehatkan. 

Percayalah, aslinya lebih cantik.
Jarak 6 KM itu biasanya ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan, bisa lebih cepat kalau kaki anda mudah panas atau bisa lebih lama kalau kaki anda malas. Guide pun paham betul kondisi, jadi dibuat 3 x pos istirahat untuk menyesuaikan nafas. Usahakan jangan terlalu jauh ketinggalan dengan rombongan paling depan, kejadian nya ya seperti kami ber-4, ketika sampai di pos istirahat, baru duduk sebentar, rombongan sudah siap maju lagi ke depan. Setuju juga dengan celotehan guide saya kemarin, seharusnya yang memiliki keterbatasan fisik tidak perlu menuju lokasi ini, karena jaraknya memang membuat fisik cukup batuk dan mulut pun tidak berhenti bertanya “masih jauh Bang?”.


Pacar dan Pacat berlomba mencuri perhatian.
Jarak yang jauh itu akan sedikit berbeda cerita apabila di rombongan terdapat sang Kodok, eh Sang Pacar. Pastilah tu si Pacar ngga bisa jauh-jauh dari Anda, “aku capek” atau lebih ekstrim “gendong” adalah kata-kata syahdu di tengah hutan lebat yang matahari pun sulit menembusnya. Saranku, jangan hiraukan. Karena cewek manja bikin capek apalagi sudah manja di tambah dia seorang Alay, habislah kau. Tapi mata anda memang tidak akan pernah bosan mengecek keamanan sang Pacar apabila kalian ada di jalur Pucari, itulah cinta kawan.

               “Kalau mau tes, pacar kelen cinta apa ngga, ajaklah dia naik gunung, apa reaksinya?”


Sungai yang tidak berhenti untuk memanjakan kaki ternyata diam-diam berbisik. Sudah terkenal kalau kesini, hati-hati dengan Pacat atau Lintah (masih hangat perdebatan teman-temanku tentang perbedaan kedua karnivora itu).  Pepatah yang ku buat sendiri “Air mengalir tanda banyak yang berdesir” kurasa ku alamatkan ke sungai-sungai disana, karena begitu cepat Pacat atau Pacet hinggap di kaki dan hebatnya mereka, tubuh tidak merasakan apa-apa ketika mereka menghisap darah kita. Pada saat pos istirahat terakhir, kami mengambil waktu Sholat Dzuhur dan makan siang. Terkejut dengan teguran teman ku bahwa kaki ku mengeluarkan darah, dan menurutnya itu bekas Pacat. Tapi syukurnya tidak ada sakitnya sama sekali dan kaki pun tidak ada efek sama sekali selain tanda hitam mungil bekas gigi si Pacat (mungkin).

Tapi ketika jalan pulang, aku merasa ada yang aneh dengan kaki yang seperti menginjak jelly, licin. Aku cukup panik ketika kakiku kembali di gigit sang Pacat dan darahnya tidak mau berhenti. Menurut temanku, itu karena aku melepas Pacat itu secara paksa, ya wajarlah kita reflek mengeluarkan jurus ketika ada musuh menyerang kita punya body. Aliran darahku baru berhenti ketika di sumpal dengan sabut tembakau dari rokok temanku. Setelah dirumah aku sempat mencari tahu tentang hewan itu, si Pacat memang punya zat di liur yang membuat aliran darah kita tidak bisa membeku, tapi positifnya Pacat atau Lintah bisa melancarkan aliran darah di tubuh kita. Saran aku, kalau mau ke Pucari pakai saja sepatu yang full nutup atau kaus kaki, kalau pun dengan kaki telanjang, seperti para guide, usahakan untuk tetap berjalan dan jangan lama mencelupkan kaki di Sungai.

Lokasi Pucari juga tempatnya untuk habitat lebah alami, artinya lebah disana memang hidup sendiri bukan di budidayakan warga. Kalau sudah ketemu, jangan coba memukul, cukup mengelak saja karena mereka tidak menggigit kalau kita tidak berupaya serang duluan. Masih di pos istirahat siang kami, ternyata disanalah ratusan lebah hilir mudik dan tentu saja kita was-was akan desingan mereka. Asap pembakaran yang dibuat para guide tidak mampu menghalau para lebah yang tetap wara wiri menguji kesabaran tangan kami untuk meng-gepok-kan mereka ke tanah. Tapi Alhamdulillah, dengan jurus “no preumen sepai” kami lanjut makan karena memang kami lapar.

pos istirahat


Pucari, engkau yang kucari…
Sampailah di Gong yang ditunggu-tunggu (oleh teman-temanku). Awalnya aku tidak tau kalau sudah sampai, karena awalnya itu hanya sebuah air terjun 10 meteran yang hanya 1 tingkat, aku protes dalam hati; kok lain dari yang di foto-foto? Ternyata itu hanya awal, ada satu bukit kecil lagi yang harus di daki untuk sampai ke Pucari yang sebenarnya dan benarlah disitu dia berada. 

Air terjun sebelum sampai ke Pucari

Sayang masih sendiri...
Tersusun rapi batu-batu yang membentang untuk di lewati barisan air sungai yang tanpa perlu permisi lagi untuk menuju hulu. Indah sekali. Air terjun nya tidak seperti air terjun yang besar dan panjang umumnya, air terjun Pucari hanya memiliki tinggi 1 hingga 5 meter dari tiap tingkatannya, total ada 7 tingkat. Sayangnya, aku pergi ketika tanggal merah jadi ya lumayan ramai rombongan, tempatnya yang masih alami jadi kurang dapat feel ketika mau foto saja harus ngantri. Jadilah fotoku tidak ada yang benar-benar terkesan wisata alami.

Lengkap sudah target ke Pucari. Sungai yang sangat tenang, hutan asli yang asri, dan air terjun 7 tingkat yang menjadi bidadari. Aku tidak pasti akan nama Pucari itu sendiri di ambil darimana, aku lupa bertanya pada guide. Yang jelas, Pucari menjadi satu mahkota besar untuk warga disana. Alhamdulillah itu bisa menjadi satu pemasukan untuk Kampung dan diharapkan masyarakat juga konsisten terus menjaga kelestariannya. Aku berani memastikan masih banyak Pucari-pucari lain di lokasi Jantho, Pucari adalah air terjun jadi masih bisa kita telusuri lagi arah asalnya. Waktu dan usaha sepertinya bukan tertuju ke saya, maaf, hehehe. Pucari yang terus terekspos melalui media, akan tetap jadi primadona untuk para pelancong yang penasaran seperti apa aslinya. Jarak yang jauh dan jalanan yang dipenuhi bebatuan licin menjadi revisi untuk hal alas kaki. Pacat dan lebah juga bisa menjadi perhatian untuk hal safety.

Demikian review untuk Pucari, apabila ada hal yang tidak tepat mohon di koreksi segera demi informasi yang benar. Kalian harus sadar, Aceh sedang ramai di lirik untuk wisatanya, gencarkan serangan promo di media sosial kalian masng-masing. Kita jangan sibuk kritik pemerintah, lakukan apa yang kalian bisa untuk membantu tanah Aceh kita. Sampai kapanpun kalian tetap jadi Anak Aceh, yang bermodalkan darah pejuang, dan bernafaskan islam sebagai identitas kita.
Selamat datang di Aceh.



M Fauzan Nur  (08 Mei 2016, 23:03)