Minggu, 29 Mei 2016

Wajah Anda di Media Sosial



saya kembali…

Lumayan pusing beberapa minggu ke belakang, tapi Alhamdulillah pikiran dan hati masih sehat. Dapat kesempatan untuk jadi tentor pelajaran SPMB, awalnya panik sendiri ketika kata “Harus” dan “Mau tidak Mau” menjadi TARGET. Lumayan bikin stress, ketika Biologi di depan mata dan tambah lagi beberapa pelajaran lain; Sejarah, Sosiologi, namun ada Ekonomi sebagai healing. Jadinya nostalgia ketika soal-soal tentang Ekonomi kembali di bahas, tahap ke tahap, kurva ke kurva, dan kurva ke suara. Seru lagi karena dapat dua siswi private yang memang sangat menarik dan Alhamdulillah sangat mengerti keterbatasan Mister-nya (maaf -,-). Pengalaman baru dan silahturahmi baru lagi.. sangat sehat.

Aku sendiri sudah lama tidak buka soal-soal SPMB jadi ya harus menghabiskan banyak waktu untuk memutar kenangan-kenangan indah pelajaran sekolah, namun tidak sedikit juga yang memang baru aku dapat, Googling adalah sahabat.

Lagi pegang Hape? Kalau tidak, tak apa.
Yakin aku kalian juga pernah punya notification sebanyak ini, dan bahkan kalian punya yang lebih rame.

dag dig dug kalau liat notif
Tidak bisa bilang tidak, media sosial sudah mengambil waktu manusia terlalu banyak. Kalian yang “Tidak Setuju” karena memang kalian masih aman dengan Hape tinat tinut dan tetap konsisten bahwa sms dan telpon masih cukup mengamankan kantong, kalian hebat. Tapi kawan, aku ajak kalian lihat ke sekitar.. lingkungan kita telah tercemar oleh radiasi MedSos. Kalian tidak, tapi kita kebanyakan adalah iya. Ketika ingin tidur, entah siang atau malam, aku perhatikan dan bahkan aku sendiri mengakui bahwa Hape haruslah di cek dulu, mana tau ada pesan dari Telkomsel. Begitu juga ketika bangun, walau tangan tidak meraih tapi hati tetap mengarah kesitu, ke Hape. Ada hadist, ketika bangun tidur dunia yang di pikirkan, maka semakin bingung dan sibuklah kita dengan dunia itu, tentu juga ada hadiah lain berupa rusaknya kesehatan pikiran.

Media sosial sebenarnya tidak selamanya buruk, prinsipnya sendiri MedSos yang diwakili oleh teknologi  dibuat untuk memudahkan manusia. Aku akan menyebut merk; Facebook, Twitter, Whassap, Path, BBM, Instagram, dan banyak lagi yang sejenis, yang menurut ku sama-sama aja fiturnya, beda warna dan beda tekan dikit.  Coba kita simak tujuan-tujuan dari penggunaan MedSos, spontan aku memikirkan beberapa tujuan, mana tau ada yang memang “Loe-banged” :

1. Sharing.
Kesannya aman dan save ketika MedSos di gunakan untuk tujuan sharing. Tapi kita tarik jauh sedikit, sharing disini ada tujuan lain lagi. Sebuah hal yang mau di share ke orang rame tujuannya tentu agar ada umpan balik yang kita terima, mungkin berupa Love untuk Path atau Like untuk Facebook, bahkan ada yang mau spending time lebih untuk meninggalkan komentar. Naik derajat, kesannya famous, lebih lagi waktu jumpa di luar yang dibahas itu-itu lagi, makin runcing lah tu dagu. Nah kalau itu tujuan Sharing-nya, bisa di bilang itu Pamer.
Sharing yang English dari Berbagi, tentu hakikatnya ada sesuatu yang bisa bermanfaat dari apa yang kita bagi. Aku menulis di Blog, aku mau apa yang aku rasakan tentang lingkungan ini menjadi perwakilan ketika diam adalah bahasa di dunia luar.  Ya, walaupun viewer saya tergolong rendah, saya tetap akan menulis.

2. Bangun Imej
Pencitraan. MedSos bisa untuk pencitraan, jelas. Punya pengalaman ga enak dengan ini, aku terjebak di satu MedSos yang bisa selalu update dimana dan dimana, dan pergi ke satu tempat karena memang salah satu tujuan nya “biar dikira anak nongkrong”. Dan tentu saja itu bukan satu prilaku yang sehat, ini juga nyangkut dengan pengalaman Ngopi yang pernah aku share di tulisan sebelumnya. Ketika ngopi dan kawan-kawan sudah di depan mata, suara bukan keluar dari mulut tapi dari tuts Hape.
Tapi kita tarik garis panjang lagi untuk yang ini, kadang citra itu terbangun dengan sendirinya. Sering nge post yang alam-alam, ya karena memang hobi naik gunung. Sering nge post foto makanan, ya karena memang hobi masak (bukan hobi makan). Just keep be your self, tapi tetap ada kadar. Soal update makanan, pernah kalian pikirkan? Ketika kita update foto makanan yang kita makan, ada orang yang menangis kelaparan di luar sana.

3. Jualan.
Entah kenapa yang muncul langsung pikiran jelek ketika ingat yang ini. Broadcast sebentar-sebentar, DP gambar sepatu dan seprei, atau kue yang bentuk nya entah apa tapi harga mengapa. Tidak salah sebenarnya mereka memanfaatkan dengan baik urusan dompet ke dalam MedSos. Ada potensi pasar di sini, banyak manusia konsumtif yang suka membuka MedSos untuk melihat produk-produk yang memang ia butuhkan bahkan tidak begitu dibutuhkan ataupun suatu saat ia kira akan dibutuhkan (wanita). Kalau yang hobinya broadcast, coba di alihkan menjadi sebuah grup saja yang berisi konsumen tetap atau ya juga calon konsumen, intinya lihat-lihat juga kalau mau broad, karena lelaki tidak memakai seprei bunga Lavender, kami memakai Mawar.

4. Silahturahmi.
Ini dia. Ketika jarak memisahkan dan rasa rindu hadir tidak bisa tidak haruslah dilampiaskan kalau mau tidur nyenyak. MedSos menjawab masalah ini dengan cukup baik. Era saat ini memang sangat mengandalkan media sosial untuk menyambung tali silahturahmi. Menarik ketika sebagian kita lebih akif berbicara di MedSos daripada ketika bertemu langsung, kesannya ada yang dia tutupi dari dirinya atau bahkan dia merasa dunia yang sesungguhnya bukan lagi tempatnya, miris sekali.
Mengenai hal ini, aku sudah hampir 2 tahun tergabung dalam One Day One Juz (ODOJ) yaitu program mengaji minimal 1 juz setiap harinya. Disini kami sangat mengandalkan MedSos, karena anggota ODOJ ini berasal dari seluruh Indonesia, bahkan beberapa ada di Negara lain. Kami menjalin ikatan di Whassap dan menemukan komitmen untuk terus berjalan bersama dalam membangun karakater mencintai Al-Quran. Pernah juga saya temukan, ada kajian online yang dibuat. Jadi penceramah menyampaikan materi melalui pesan-pesan di Whassap dan peserta membaca kajian itu, dan tentu ada time keeper yang menjaga porsi waktu untuk penceramah menyampaikan materi dan peserta mengajukan pertanyaan. Aku belum pernah mengkuti kajian online, tapi aku memperhatikan hal seperti ini sangat menarik.



5. Memori.
MedSos bersifat jangka panjang, kita nge save kenangan kita di dunia lain yang lost lasting selama dunia kita yang sebenarnya masih bisa menciptakan jalur masuk berupa aliran teknologi yang bernama internet. Foto-foto dan tulisan identik sekali untuk ini, Instagram ku rasa mewakili dengan sempurna. Kita membuat album sendiri tentang memori kita di MedSos, ada risiko tentu saja pada saat orang lain mampu dengan mudah melihat apa yang berharga untuk kita sebut sebagai sebuah kenangan indah.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Aku yakin banyak lagi, tujuan-tujuan lain yang mungkin lebih spesifik yang mewakili kita di Media Sosial kita masing-masing. Berusahalah tetap berbagi dan itu berguna. Dunia maya kadang suka ribet karena disini sifatnya semu, jadi tidak begitu jelas maksud kalimat-kalimat yang kita update. Berbeda yang baca, sudah berbeda juga sudut pandang yang diambil.

Fenomena Meme
Saat ini, kok jumpa manusia yang pegang Hape dan senyum-senyum sendiri, kemungkinan besar… dia Gila.
 
INGAT! Baca nya "mim"

Saya salut sama yang yang buat-buat seperti ini, kadang isinya simpel tapi berani. Makanya itu orang kreatif akan selalu menang di pasaran. Fenomena Meme sudah muncul ketika MedSos mengambil waktu kita terlalu banyak. Ada orang kreatif yang tidak dibayar yang mau buat kita ketawa dengan ulahnya. Kadang hanya diwakili gambar atau juga lebih komplit yaitu gambar beserta tulisan nya. Ada yang nostalgila, foto-foto zaman dulu yang dibuat mewakili keadaan saat ini. Ada juga kata-kata motivasi yang aku bilang brilliant, yang kadang isinya simpel tapi kenak. Tapi tidak sedikit juga yang berusaha untuk lucu (read: garing) atau bahkan ada sedikit SARA.

BACA!

Ketika akhirnya kamu dewasa dan menyerah pada dunia semu ini, kamu menemukan kehidupan di luar ini semua yang lebih nyata dan lebih berharga. Dunia yang Allah beri untuk kita ada untuk kita jaga, ingatlah bahwa kita manusia banyak dilebihkan di berbagai sisi kehidupan dan kita adalah pemimpin, minimal untuk diri kita sendiri. Apapun yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan, apapun itu. Aku berkaca juga ketika dunia sebenarnya sudah sangat tak tau arah mau kemana, karena waktu habis untuk membangun citra di dunia yang lainnya. Malu rasanya dengan umur dan tentu saja pada Allah Yang Selalu Memberi kesempatan setiap pagi untuk bangun lagi ke dunia, tapi bukannya bertambah baik tapi kembali berbuat kesalahan.

"Dunia yaitu tanah adanya di bawah dan langit adanya di atas"

Harus yakin, kita semua adalah worth it. Everyone is unique and everyone must be special. Allah Menciptakan kita dengan gen yang berbeda-beda dan yakinlah bahwa kita punya sifat baik untuk sesama kita. Tinggal kitanya sekarang, mau atau tidak menunjukkan kita yang baik untuk mewakili wajah di dunia sosial kita. Waktu tidak terulang, waktu tetap akan berjalan sampai akhirnya ia selesai dan kita pun selesai. Hidup pertempuran antara baik dan buruk, waktu mewakili itu semua. Berikan satu yang kamu yakin baik dan itu bisa membuat kebaikan, gunakan yang baik itu untuk satu wajah yang mewakili kita untuk diingat orang lain. Usahakan konsisten, karena setiap waktu kita harganya mahal.

M. Fauzan Nur (250516 ; 23.14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar