Sabtu, 27 Agustus 2016

Belajar Mendengar

         Waktu kecil, pernah kita diajari bagaimana cara berjalan dan tentu orang tua juga sangat menantikan kata pertama saat kita bicara, proses tumbuh dan berkembang terus berlanjut dengan semakin banyak mempelajari hal-hal baru dalam proses hidup di dunia dan bekal untuk di akhirat nanti. Lingkungan membentuk pribadi kita, ketika kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita menjadi semakin bisa menghargai siapa saja. Pelajaran-pelajaran yang bangku sekolah ajarkan jelas tidak cukup, keluar dan cari pelajaran yang sebenarnya.

        Warung kopi menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk mewarisi  berbagai pengalaman baru. Semua pengalaman yang di dapat dari dunia luar dan baru saja di lihat seakan tidak sabar untuk dibagi di depan forum, dan jangan lupa secangkir kopi atau teh manis yang beruap untuk seorang Lambung-isme, seperti saya. Satu hal yang menjadi menarik adalah, semua manusia berlomba melukiskan pengalaman itu semenarik mungkin agar benar-benar menjadi buah bibir di hari itu atau bahkan menjadi ingatan yang menggelitik ketika memori dituang kembali. Tapi, semua orang lupa bahwa ketika semua orang ingin berbicara siapa yang akan mendengar?


       Komunikasi memang wadah penyampaian informasi yang memang membutuhkan dua unsur bersinergi agar sempurna jalur komunikasi itu. Yang dimaksudkan adalah adanya unsur si pemberi informasi yaitu pembicara dan yang satu tak boleh tinggal, yaitu adanya unsur penerima informasi yaitu pendengar.

-----------------------------------

      Pengalaman, ketika saya berada di satu forum yang tidak formal, seperti di warung kopi semisalnya, semua teman datang dengan cerita dan pengalaman masing-masing. Berbagai model komunikasi tergambar disana, ada yang dari awal forum aman sentosa, sampai jalur komunikasi mulai di potong oleh yang kurang sabar, misalnya dengan kata “aku gitu juga waktu itu, brebet brebet… (nyerocos cerita dia)”  atau yang lebih lucu kukira, kalau sudah panjang si pembicara bercerita, namun di tanggapi dingin dengan “haha iya juga” sambil tangan di laptop ngecek IDM nyakut atau tidak. Nah, saya seperti itu.


“Banyak bicara semakin memperlihatkan kebodohanmu”
  
        Kalimat itu saya dapat di sebuah film, dan saya suka setuju kadang juga tidak. Benarlah, kelas kita bisa terlihat dengan cara dan bahan apa yang kita bicarakan. Belum tentu ngomong serius bisa menarik perhatian, bahkan bicara ngalur ngidul dan ketawa suka-suka tapi forum dibuat pecah dengan ceritanya, itu yang di cari. Orang-orang sekarang, dunianya udah pusing entah lari kemana, dan mereka mencari sebuah tempat yang bebas politik dan bebas duit untuk sekedar berbalik arah dan menetertawakan dunia.

       Teman kita memang bermacam-macam, macam malaikat ada, apalagi yang macam setan. Sering saya ke warung kopi tanpa ajak siapa-siapa dan fokus menikmati apa yang saya nikmati. Fenomena sekarang, suka aneh dengan teman sendiri karena dia aja yang ngomong dari tadi. Saya yang memang banyak diam selalu jadi tong kosong untuk dia isi, yang tanpa dia tahu tong itu sendiri sudah saya isi duluan dengan umpatan untuk dia. hahaha. Hahaha. HahaHAH.

       Kadang suka kasian juga, sepertinya orang seperti itu tidak punya kawan yang memang mau dengar cerita dia. Lingkungan nya menolak untuk isi cerita dia, dan dia tidak punya pelampiasan selain M. Fauzan Nur yang sok baik dengan jawaban : oya?/ haha/ kok bisa macam tu?/
Nasib sekali jadi saya yang polos seperti ini.

     Sudah kodrat manusia kurasa, untuk selalu ingin didengarkan. Umumnya seperti itu, walaupun dia pendiam yakinlah bahwa ada satu orang yang menjadi tempat sampah cerita-cerita emas dia, atau ada media yang menjadi tempat dimana ia menjadi raja dan semuanya meng-iya-kan ceritanya, dan akhirnya ia lega dan menang akan dirinya snediri. Para blogger yang budiman, saya tidak meminta dukungan.

       Ego selalu jadi juara kalau sudah di depan orang lain tapi tak tampil. Kalaupun tak punya cerita, tunggu pancingan dari cerita orang lain, mana-mana tau ada pengalaman seperti itu juga. Kadang cerita sudah tidak sehat lagi, terlalu banyak bumbu penyedap yang membuat akal pendengar sudah tak betah. Bukan informasi yang di share, tapi kebohongan. Kita berbagi informasi yang berguna untuk orang lain, insyaAllah bisa jadi pahala. Tapi kalau sudah masuk bumbu bohong, alang-alang pahala, dosa pun menjadi buah tangan.

Jadi Pemenang.
        Ketika semua orang sibuk berbicara, hanya beberapa yang diam dan menyimak sepenuh hati. Sebagian yang lain di kepalanya sudah siap untuk sanggahan dan jurus ampuh lain untuk mendapatkan perhatian. Tapi ada saja syaiton yang memberi perhatian kepada para pendengar baik-baik tadi, dan menghina mereka karena mereka hanya diam dan mendengar. Halo pendengar yang budiman, ketika kalian dilecehkan kehormatannya karena diam saja seperti kucing basah, yakinlah pemenang hari itu sudah ditentukan. Yakinkan forum bahwa anda baik-baik saja, beri mereka senyuman Mario Teguh.

       Wujud syukur kita untuk menggunakan Apa yang Allah Beri yaitu sebuah Mulut untuk berbicara dan sebuah Telinga untuk mendengar. Gunakan untuk yang bermanfaat sebisa mungkin. Jangan lupa bahwa manusia memang ingin didengar dan anda juga manusia. Berbicara selalu buruk juga, cobalah atur nafas dan diam mendengar.


JUST TALKING NO ACTION
“Halo yang banyak bicara, prestasi nya sudah ada? Kalau belum, baca! Makhluk di depan anda sering muak dengan cerita yang itu-itu saja, mereka sudah tidak mau tahu prestasi anda, mereka sudah khatam atas keluhan-keluhan anda, dan hati-hati, mereka siap membicarakan anda apabila anda tidak berhenti berbicara.”



M. Fauzan Nur
260816;17.05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar