Senin, 01 Agustus 2016

Passion = Nafsu


Bukan saya yang bilang!

        Setidaknya itu yang dikatakan aplikasi kamus bahasa inggris saya ketika kita mengetik “passion” di kolom pencarian dan menemukan kata Nafsu sebagai bahasa lain dari kata Passion, bahasa lain itu adalah bahasa kita, Bahasa Indonesia.

        Saya tidak maun main solo dalam mengartikan dan menerbitkan tulisan ini. Saya koordinasi dengan Google untuk kata itu, dan ketika saya mengetik “passion”, mesin pembantu otomatis mencoba menawarkan bantuan dengan menyambungkan kata “… adalah” dan menjadi “passion adalah” dan google mulai mencari.. dan saya menemukan,

 


        Mereka menyebut passion dengan bahasa yang sangat bijak, tidak seperti yang kamus lakukan. Google menerjemahkan passion sebagai sebuah kombinasi dan mengakhiri dengan smooth berupa nasihat bahwa passion (nafsu) tidak ada apa-apanya apabila hanya sendirian, passion (nafsu) harus tepat guna dan tentu melakukan nya harus menggunakan perasaan. Bijak sekali.

        Disini kita bisa tahu bahwa berjuta-juta orang mencari passion dalam Google, dan lahirlah banyak tulisan yang mengulas tentang passion itu sendiri dan bagaimana menemukannya. Saya pernah mendengar ada yang bersuara (seingat saya suara dari dalam TV), bahwa apabila kamu belum menemukan passion-mu, maka terus carilah, terus berusaha sampai kamu nyaman di suatu titik dan hore! passion mu ketemu. Inspirasi bagus untuk membuat aplikasi “Passion-Go” dan cari passion mu.

        Ketika kita berbicara nafsu, pikiran saya langsung mengarah ke sesuatu yang negatif. Kita belajar agama, dan kita di ajarkan untuk menguasai nafsu kita dan tidak membiarkan nafsu yang menjadi Tuhan. Ketika sudah sampai pada godaan syaiton, maka dimulailah ujian itu. Nafsu mulai menyusun satu demi satu, pikiran di penuhi dengan mereka, hal-hal baik mencoba melawan, sayang pula yang baik kalah jumlah dengan yang jahat, dan kebanyakan dalam kasus, yang jahat akan selalu menang, dan akhirnya menyesal… “susah sekali mengendalikan nafsu”, efek “huft” jangan lupa pada status.

        Sebenarnya saya tidak mau menyalahkan kamus disini, saya mencoba mencari kata “nafsu” untuk di translate dan saya menemukan “lust” sebagai arti pertama, dan “passion” bertengger di posisi ke 4. Saya menjadi sedikit bernafas lega, saya sering menggunakan kata passion kalau mau beralasan tentang resign-nya saya, “disitu bukan passion saya”. Tapi umumnya kita setuju bahwa passion adalah kata yang menggambarkan bidang profesional yang kita sukai, dan umumnya kita menyukai sesuatu hal yang kita mampu berbuat yang paling baik dalam hal itu, akhirnya kita mapan dan menjadi “seseorang” yang dapat berbagi kepada orang lain. Jadi alurnya ; sukai, lakukan, ahli, jadi, dan bagi.

Bagaimana bisa, passion yang sebenarnya adalah kekuatan mu berubah menjadi kelemahan di hadapan orang lain?
        Satu hal, Nafsu. Di awal saya menampilkan gambar yang saya sadur dari Google, tentang bijaknya mereka menerjemahkan apa itu passion. Kelebihan adalah satu hal kunci untuk menarik perhatian yang lain untuk melihat mu, tapi ketika pandangan sudah diarahkan ternyata gatot. Passion itu kita lakukan hanya untuk kita, dan kita terlalu menikmati untuk diri sendiri dan lupa bagaimana rasa itu dapat dibagi kepada orang lain.
Cerita sikit, Kemarin saya kebagian mengajar kelas Bahasa Indonesia, dan saya mengajarkan siswa-siswi saya bagaimana berbicara di depan umum, mereka saya suruh pidato untuk 2 menit. Adil hukumnya saya sebagai tentor untuk mencontohkan terlebih dahulu. Saya terus berbicara sementara salah satu siswa saya menjadi time keeper, saya berbicara sampai lupa diri, dan ketika saya sampai  tentang cita-cita, saya mengungkapkan untuk saat ini saya sudah tidak mau jadi apa dan siapa, saya hanya ingin saya jadi yang berguna untuk orang lain, terutama untuk anak-anak. Pulang dari kelas itu saya membawa beban yang sangat berat.

        Bila berbicara passion, kita berarti sangat 100% dalam hal itu. Kita sukai, kita cintai, and we did it. Apabila ada wadah yang memang akan menampung Anda sebagai pemilik passion dan anda sangat suka “wadah” tersebut, apakah anda akan memberi tetap 100%? Ya, saya berbicara keuntungan sekarang. Anda sudah bekerja sesuai passion anda, tetapi anda tidak mendapat bayaran atas pekerjaan anda. Bagaimana jadinya? Saya menemukan hal yang ganjil saat ini, ketika saya sudah bekerja tetapi tidak dibayar itu adalah Gila. Bisa saya yang Gila, ataupun si bos yang hatinya sudah gila. Kita tetap tahu apa yang kita butuh, dan kebutuhan harus dibeli toh? Tidak bisa hanya senyum dan “makasih udah datang”, sementara perut tetap pedis menahan lapar.

        Sering kita dengar bagaimana gemilangnya orang yang mengerjakan hobi tetapi dapat menghasilkan uang. Saya berani ambil pusing, pasti awalnya mereka bukan profit oriented, melainkan hanya fokus pada kesenangan dan berusaha berbagi kepada orang lain dengan cara semenarik mungkin, walau terkesan pamer. Hasil yang di dapat? Senyuman dan ucapan “terimakasih sudah datang MEMBELI”. Perut kenyang membuat senyum lebih manis dan nafas lebih wangi ketika mengucapkan kalimat itu.

Para Pencari Passion
Saya mulai tertarik "design men_design"

        Sudah banyak makan korban, saya juga salah satunya. Banyak kita temukan dan sudah dengar bagaimana seseorang yang sangat tertekan akan pekerjaan dan memilih memotong jalur rezeki karena dikira bukan hal yang utama di dunia yang sesaat ini. Saya bisa menceritakan langsung via warung kopi kepada Anda, betapa sulitnya bekerja pada hal yang memang bukan passion Anda, tetapi dunia mencekik bahwa anda tetap harus diam dan menikmati “rasanya dicekik”.
Banyak para pencari passion yang selamat akhirnya landing di tempat yang mereka memang mau, tapi ada juga yang masih wara wiri karena passion tidak juga Nampak di dalam radar jangkauan, pilihan hijrah adalah yang paling sulit. Tetap mencari dan mencari, setidaknya anda sudah selamat keluar dari “cekikan” dan “cekikikan” yang membuat anda sulit tidur. Kita tahu bahwa begitu banyak orang yang mengorbankan dunianya untuk perihal gengsi, lebih sedih lagi, mereka lupa bahwa akhirat juga telah terkorbankan.

        Begitu banyak tulisan-tulisan baik untuk kita sebagai pencari passion yang akan memandu kita di medan tempur. Saya menemukan salah satu, tulisan dari Kak Arry (coretan-rahmawan.blogspot.com) tentang bagaimana menemukan passion anda dalam waktu 10 menit. Disitu beliau membeberkan bahwa tidak sulit sama sekali, dan beliau rinci mengenai 1 sampai 5 tehnik untuk mencari passion.

        Bisa jadi kekebalan tubuh kita yang tebal oleh rasa malas akan membuat kita masuk kembali ke lubang yang sama, nafsu memandu kita dengan opini lama “mertua mau yang jelas”. Kadang dunia menjadi begitu kejam, tidak, dunia memang kejam untuk yang lupa bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Mendengar keluhan-keluhan kita. Keras sekali medan yang akan kita tempuh untuk sampai dan selamat di passion yang kita mau, tapi saran saya apapun prosesnya tetap fokus pada kebaikan. Biarkan kebaikan yang menuntun, kita sudah tahu apa makna “passion” berarti kita juga sudah cukup umur tentang mana yang baik dilakukan, dan mana yang buruk. Tinggal pilih.
Selamat Mencari, jangan lupa “Pake-Iman & Go!”.

Wassalam

M. Fauzan Nur (300716;18.49)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar