Minggu, 09 Juli 2017

GERAKAN PEMUDA BERSIHKAN MESJID #Aceh2017

    Kemarin ada yang tanya kenapa saya tidak mau keluar Aceh cari rezeki dan hidup jauh dari keluarga, saya tentu tidak ragu akan pertanyaan seperti ini. Saya mantap menjawab : “saya nyaman kalau ada suara adzan orang masih tau kalau itu tandanya kita sholat, saya mau hidup di lingkungan seperti itu”. Ketika SMA, saya sangai ingin hidupdi luar dan cenderung membenci Aceh dan salah satu teman SMA saya berkata, bahwa sampai dimanapun saya akan tetap menjadi orang Aceh. Makin kesini insyaAllah saya semakin sayang dengan tanah Aceh, keren sekali ketika saya baca sejarahnya. Tanah yang berisi sejarah dan amanah.

     Aceh memang terkenal dengan syariat Islam dan itu sudah dari dulu didengungkan ketika para endatu mempertahankan tanah Aceh dari penjajah kafir. Patutlah kita sebagai generasi penerus minimal tahu akan sejarah itu dan lebih lagi ada rasa tanggug jawab membawa nama baik tanah kita ke mata dunia, karena bukan hanya terkenal kaya raya, orang Aceh juga terkenal akan “mental raja” yang memang memegang “tahta” dimanapun dia berada. Semoga paham.

   Saya teringat kata Ustadz Abdus Somad di salah satu ceramah online Beliau, bahwa ia membanggakan Aceh sebagai daerah yang berhasil dari dulu konsisten akan syariah Islam, karena apa? Karena Raja atau Sultan kita terdahulu langsung memegang kekuasaan sebagai kepala pemerintahan, dan menjalankan sesuai tuntutan Islam. Jadilah Aceh yang terkenal akan ketangkasan di medan perang sampai melebar sayapnya ke negeri Malaya ini, benar-benar di segani sebagai daerah yang tidak “sembarangan”.

     Aceh yang identik dengan Mesjid Raya Baiturrahman, yang merupakan mesjid yang punya andil besar dalam sejarah Aceh, yang juga ada di pusat kota Banda Aceh ini menjadi icon akan Pariwisata Aceh dan tentu masyarakat Aceh sendiri. Jadi jangan sampai nanti Anda, orang Aceh asli sudah melalangbuana hingga keluar negeri tapi belum pernah datang ke Mesjid Raya Baiturrahman, jangan datang saja, wajib juga sholat didalamnya. Karena apa? Saya mengingatkan wahai rakan, Mesjid Raya Baiturrahman adalah sebuah rumah ibadah Islam yang terus aktif dalam kegiatan keagamaan, yang juga memang adalah sebuah bangunan bersejarah. Jadi jelas salah kalau anda datang hanya untuk foto dan upload. Apalagi pakaiannya... hmmm lah.

     Mengenai Mesjid Raya Baiturrahman, sudah berhasil di renovasi dan membawa wajah baru, sangat baru. Dengan adanya payung eletrik dan ruang bawah tanah membawa keindahan yang mengingatkan kita pada Mesjid Nabawi di Madinah. Saya harus jujur bahwa tidak semua orang Aceh akan setuju dengan perubahan pada Mesjid Raya Baiturrahman, tapi perubahan itu telah terjadi dan berakibat pada banyak hal, positif Alhamdulillah ada, negatif tentu jangan tanya lagi.

     Setelah diresmikan oleh “petugas negara” dari Jakarta, Mesjid Raya Baiturrahman terus dibanjiri jamaah yang datang untuk melihat langsung perubahan itu. Karena sebagian besar lantai sudah dipasangi marmer, bahkan sampai di halaman, membuat jumlah jamaah dapat tertampung dalam kuota yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Hal yang begitu positif ketika masyarakat ada stimulus untuk lebih rajin beribadah melihat Mesjid Raya Baiturrahman yang baru, tapi niatnya tentu harus dibarengi dengan mengharap ridho Allah SWT. Teringat ceramah Ramadhan kemarin oleh Ustadz Farhan, bahwa niat orang sholat di mesjid Al Makmur (Oman) karena Imamnya yang dari Arab Saudi itu tentu salah. Apalagi niat sholat shubuh berjamaah karena mau melihat Muzammil nikahan. Eh, maap.

    Kembali ke Mesjid Raya Baiturrahman, jadilah setelah lebaran beramai-ramai orang (jamaah) datang ke MRB (Mesjid Raya Baiturrahman) untuk tujuannya masing-masing. Orang-orang itu juga saya sering lihat di Instagram karena beberapa teman saya yang dari luar kota juga menyempati hadir ke MRB yang baru. Namun, sedikit mengecewakan bahwa kerumunan orang itu membawa berita negatif yang akhirnya viral; “Mesjid Raya Baiturrahman di kerumuni sampah”. Saya kira hal biasa awalnya karena memang resiko kalau public place yang sedang booming ya pasti ramai sampahnya, tapi setelah lihat bahwa sampah itu membuat kenampakan Mesjid Raya Baiturrahman berubah menjadi mengerikan. Sekali lagi saya ingatkan, bahwa Mesjid Raya Baiturrahman adalah sebuah mesjid dan itu rumah Allah, Yang Maha Memiliki apapun itu. Coba mainkan Logika sederhana saja.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..

     Pemuda Aceh langsung bergerak di Hari ke-3 lebaran dengan kekuatan media sosial akhirnya terkumpul relawan yang rela mengorbankan moment lebarannya dan membersihkan Mesjid Raya Baiturrahman, dan besoknya, ini dia.. hari selanjutnya gerakan stimulus dibuat, berawal dari pesan Whassap yang saya buka jam 11 pagi itu, tautan bergabung di komunitas yang lain daripada yang lain, “Gerakan Pemuda Bersihkan Mesjid”, saya tanpa perlu nafas dulu, langsung klik join, dan Alhamdulillah.. masih ada kuota untuk jadi anggota grupnya. Saya nge cek apa saja rencana mereka, dan baik sekali bahwa mereka langsung sore itu juga menggelar aksi di Mesjid Raya Baiturrahman. Aksi pembersihan sampah Mesjid Raya Baiturrahman. Saya bulatkan tekad ikut saja, walaupun saya lihat list nama-nama relawannya, satupun saya tak pernah dengar, ragu juga nanti ngomong sama siapa pula disana, tapi ya karena Allah saja, pasti Allah Mudahkan, ditambah saya saat itu berpuasa Syawal, jadi memang semangat cari-cari pahala sampingan. Alhamdulillah untuk gerakan ini. Jroeh teuh.
Aksi pertama GPBM, 30 Juni 2017 di Mesjid Raya Baiturrahman

     Setelah selesai aksi pertama, saya memang agak sedikit meragukan kelanjutan gerakan ini. Apalagi setelah saya lihat yang ikut aksi anak-anak terkenal Aceh semua, dari komunitas ini itu dan kerja disana sini, jadilah saya yang modal hanya tenaga ini hanya diam tak banyak ngomong. Tapi saya harus bilang bahwa mereka sangat nice dalam memperlakukan orang, jadi wajar kalau memang mereka terpandang di bidangnya. Yang saya ragukan waktunya, apakah orang sesibuk mereka masih bisa konsisten sebulan sekali melakukan aksi bersihkan mesjid-mesjid di Banda Aceh?

        Keraguan saya dijawab 1 minggu oleh Allah, undangan selanjutnya saya terima bahwa aksi akan berlanjut di mesjid dekat rumah saya yaitu mesjid At-Muttaqin Peunayong. Dengan semangat saya langsung tebar informasi ini disana sini karena memang setelah aksi pertama, responnya lumayan  baik di Intragram dan banyak kawan saya minta diajak kalau ada kasi lanjutan. Kawan,maksud kami post foto-foto aksi di Instagram bukan untuk riya, tapi niatnya biar yang dapat pahala bukan satu dua orang saja, tapi semua pemuda Aceh bisa dapat pahala emas ini.

      Jadilah aksi kedua di gelar oleh Gerakan Pemuda Bersihkan Mesjid dan Alhamdulillah saya masih ikut sampai disini. Tapi tantangan juga di aksi kedua ini, karena konsentrasi pembersihan bukan sampah, tapi kamar mandi dan WC, yang anda paham keadaannya bagaimana. Apalagi mesjid ini sangat banyak dihadiri jamaah luar yang beraktifitas di sungai Krueng Aceh dan Pasar Peunayong, jadi WC itu dijadikan tempat mandi dan segala aktifitas sanitasi lainnya. Awalnya saya kira WC-nya hanya 2 atau 3, dan mesjidnya di dalam lumayan bersih, jadilah tidak perlu rame-rame sekali relawan yang turun kali ini. Tapi setelah saya lihat langsung ternyata kamar mandi ada 8 dan ada beberapa bilik kencing berdiri yang “lumayan” kenampakannya. Alhamdulillah respon pihak mesjid sangat senang karena kedatangan kami dan ada beberapa titik yang menjadi amanah pihak mesjid untuk dibersihkan. Alhamdulillah lagi relawan yang turun cukup memadai dan orang-orangnya “mau kotor” semua, saya makin semangat. Selain itu mesjid ini juga mesjid yang sering saya datangi jadi saya akan merasakan langsung efek kerja kami nanti, jadilah makin semangat waktu nyikat lobang WC nya kan. Hehehe.
Aksi kedua di Mesjid At-Muttaqin, Peunayong.

Alhamdulillah lagi-lagi memang.
          Aceh yang sudah indah ini masih menyimpan pemuda-pemuda hebat yang masih mau menjaga amanah Endatu. Bagi daerah Islam seperti Aceh tentu mesjid bukan hanya sebagai tempat melakukan sholat tapi juga tempat memperoleh ilmu, ngomong politik islam, dan menambah kawan hijrah. Syukur-syukur lagi bisa ketemu jodoh. Eh?.

        Kalau berbicara Aceh, pasti berbiacara Islam. Kalau berbicara Islam, pasti berbicara mesjid. Jadi gerakan ini pas sekali. Saya sangat berharap gerakan ini bisa lanjut terus, konsisten niat karena Allah dan menjadi icon bagi perkembangan pemuda Aceh menyambut datangnya liberalisasi media sosial. Tapi bukan hanya membersihkan, tapi mesjid juga harus diramaikan,minimal sholat berjamaahnya di istiqamah-kan (ini PR buat saya pribadi).

Gerakan Pemuda Bersihkan Mesjid.. Bersih Mesjid kita!

Banda Aceh

M. Fauzan Nur (09/07/2017: 17.15)

Credit : Bang Amru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar